Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Arya Wedakarna, Anak Agung Ngurah


Anak Agung Ngurah Arya Wedakarna, adalah pemuda pekerja keras, yang sangat bangga dengan Hindu dan dengan semangat tinggi menularkan kebanggaan Hindunya pada remaja seusianya.
Merupakan anugerah bagi masyarakat Hindu Indonesia, Beliau dikagumi dengan diam-diam, oleh banyak orang dari berbagai usia.
Sangat energik, dan sangat rajin belajar (Doktor di usia muda), Beliau adalah salah satu Putra terbaik Bali di saat ini.
Dari saya pribadi, saya mengagumi Beliau karena mendirikan Arca Ganesha di Lovina.
Terima kasih Arya !

Ngakan Made Madrasuta

Beliau adalah salah satu cendekiawan Hindu Indonesia, yang sangat bangga pada Hindu, dan sangat peduli pada umat Hindu Indonesia.

Beliau adalah seorang Hindu pemberani, yang berani menyuarakan isi hati banyak umat Hindu.

Beliau berkarya dengan menterjemahkan buku, dengan menulis buku, dan dengan menulis artikel-artikel yang membangkitkan semangat umat Hindu Indonesia.

Terima kasih Pak Ngakan.

(foto menyusul ya..)

Putu Setia


Di masa mudanya, Beliau adalah wartawan muda berbakat yang berkarya di Majalah TEMPO. Kecintaan dan kesetiaannya pada umat Hindu, membuat Beliau mencurahkan bakat dan karya Beliau dalam bidang Jurnalisme tentang Hindu Indonesia.

Perspektif Beliau yang luas dan kebijaksanaan yang Beliau peroleh dari banyaknya membaca sejarah, membuat Beliau menolak apabila Hindu hanya dikemas dengan kemasan Kultur Bali. Meskipun Beliau adalah Putra Bali sejati, namun kearifan Beliau telah menyadarkan banyak putra-putri Bali lainnya, bahwa Agama Hindu di Nusantara adalah majemuk. (dahsyat !)

Beliau berkeyakinan bahwa para Putra-Putri Bali tidak selayaknya terlalu memaksakan ritual Bali, bagi penganut Agama Hindu dari suku budaya yg berbeda. Terima kasih Pak Putu, anda teguh memegang ritual Hindu Bali, tapi anda juga teguh dalam menghargai kebudayaan Hindu dari saudara-saudara se-Dharma yang bukan putra/i Bali.

I Ketut Bangbang Gde Rawi

I Ketut Bangbang Gde Rawi
Beliau adalah pelopor kalender Bali. Berkat jasa Beliau lah, setiap keluarga Hindu bali di perantauan bisa tetap mengikuti hari-hari suci, yang ditetapkan berdasarkan kalender Jawa - Bali.
Kalender Jawa - Bali di tetapkan bersadarkan wewaran (dari ekawara s/d sapta wara). Di Jawa, saat ini yang tetap terkenal adalah Pancawara : Legi (umanis), Pahing (Paing), Pon, Wage, Kliwon.
Di Bali, Saptawara juga sangat dikenal (Redite, Soma, Anggara, Buda, Wrhaspati, Sukra, Saniscara). Diterjemahkan ke kalender internasional sbb : Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu.
Saat ini, berbagai penulis kalender Bali, telah mengikuti jejak Beliau.
Bapak I Kt. Bangbang Gde Rawi, adalah sang pelopor. Kecintaannya pada sistem kalender Bali, telah mempermudah kehidupan beragama umat Hindu Bali di perantauan.
Wajah Beliau menghiasi kalender Bali, yang terpampang di ruang keluarga, mulai dari rumah petani di desa di kaki gunung Batur, sampai di rumah guru gamelan Bali di Washington DC.
Terima kasih, Pak Gde Rawi.

Dang Hyang Nirartha


Sembah hormat kehadapan Beliau, Ida Pedanda yang sangat dihormati rakyat Bali sampai hari ini. Beliau di Bali mendapat panggilan kehormatan dari rakyat, sebagai "Pedanda Sakti Wawu Rawuh" (Pedanda Sakti yang Baru Datang).




Toward the end of the 15th century, a brilliant Hindu priest Danghyang Nirartha crossed the Bali Strait and made the difficult, fateful journey to Gelgel, the seat of Dalem Waturenggong, the benevolent ruler of the island.
Nirartha won the king's favor and became his trusted spiritual advisor. In this elevated position, Nirartha was well known for his political and religious achievements. He was responsible for establishing the supremacy of the Siwaistic Brahmin family, which survives until the present era, and for constructing various major temples as the island's spiritual fortification

Nyoman Suandi Pendit

Beliau berjasa karena menerjemahkan Bhagavadgita kedalam Bahasa Indonesia.
Beliau adalah salah satu cendekiawan Hindu di masa mudanya.

Edisi pertama Bhagavadgita terjemahan Beliau masih menggunakan Edjaan Lama. Dengan kata pengantar / sambutan, yang diberikan oleh Pedjabat Presiden RI, Soeharto.

Terima kasih Pak Pendit. Anda begitu muda, saat menerjemahkan Buku sucia mulia tersebut. Buku terjemahan Anda, saat itu merupakan tunas kecil, yang kini telah melahirkan banyak pohon raksasa di hamparan tanah luas umat Hindu Indonesia.

Kami berterima kasih kepada Anda.